Selasa, 12 Januari 2010

Ekonomi Manajemen


BAB I
PENDAHULUAN
Latar belakang
Ilmu Ekonomi Pembangunan sekarang ini menghadapi masa krisis dan re-evaluasi. Ia menghadapi serangan dari berbegai penjuru. Banyak ekonom dan perencana pembangunan yang skeptis tentang pendekatan utuh ilmu ekonomi pembangunan kontemporer. Menurut Kursyid Ahmad, sebagian mereka berpendapat bahwa teori yang didapat dari pengalaman pembangunan Barat kemudian diterapkan di negara-negara berkembang, jelas tidak sesuai dan merusak masa depan pembangunan itu sendiri.
Dari paparan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu ekonomi Pembangunan Barat sama sekali tidak relevan dan tidak memenuhi syarat untuk diterapkan di negara-negara Islam. Karena itu prinsip-prinsip teori ini harus ditinjau kembali. Pendekatann yang jauh lebih kritis, harus dilakukan untuk mengobati penyakit-penyakit yang sudah dsitularkan kepada negara-negara Islam.
Pada akhirnya, kita memerlukan suatu konsep pembangunan ekonomi yang tidak hanya mampu merealisasikan sasaran-sasaran yang ingin dicapai dalam suatu pembangunan ekonomi secara tepat, teruji dan bisa diterapkan oleh semua negara-negara di belahan bumi ini, tetapi juga yang terpenting adalah kemampuan konsep tersebut meminimalisasir atau bahkan menghilangkan segala negative effect pembangunan yang dilakukan. Konsep tersebut juga harus mampu memperhatikan sisi kemanusiaan tanpa mulupakan aspek moral.
Kesadaran akan pentingnya nilai moral dalam ekonomi pembangunan telah banyak dikumandangkan oleh para ilmuwan ekonomi. Fritjop Capra dalam bukunya, ”The Turningt Point, Science, Society, and The Rising Culture, menyatakan, ilmu ekonomi merupakan ilmu yang paling bergantung pada nilai dan paling normatif di antara ilmu-imu lainnya. Model dan teorinya akan selalu didasarkan atas nilai tertentu dan pada pandangan tentang hakekat manusia tertentu, pada seperangkat asumsi yang oleh E.F Schummacher disebut ”meta ekonomi” karena hampir tidak pernah dimasukkan secara eksplisit di dalam ekonomi kontemporer . Demikian pula Ervin Laszlo dalam bukunya 3rd Millenium, The Challenge and the Vision mengungkapkan kekeliruan sejumlah premis ilmu ekonomi, terutama resionalitias ekonomi yang telah mengabaikan sama sekali nilai-nilai dan moralitas . Menurut mereka kelemahan dan kekeliruan itulah yang antara lain menyebabkan ilmu ekonomi tidak berhasil menciptakan keadilan ekonomi dan kesejahteraan bagi umat manusia. yang terjadi justru sebaliknya, yaitu ketimpangan yang semakin tajam antara negara-negara berkembang (yang miskin) dengan negara-negara dan masyarakat kaya. Lebih lanjut mereka menegaskan bahwa untuk memperbaiki keadaan tidak ada jalan lain kecuali dengan merobah paradigma dan visi, yaitu melalukan satu titik balik peradaban.
Kebutuhan akan suatu konsep baru pembangunan ekonomi dunia saat ini terasa lebih mendesak dilakukan, terutama dalam era globalisasi.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang. Ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam definisi tersebut, yaitu : (1) proses, (2) output per kapita, dan (3) jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses, bukan suatu gambaran ekonomi pada suatu saat.
Simon Kuznet mendefenisikan pertumbuhan ekonomi suatu negara sebagai “kemampuan negara itu untuk menyediakan barang-barang ekonomi yang terus meningkat bagi penduduknya, pertumbuhan kemampuan ini berdasarkan pada kemajuan teknologi dan kelembagaan serta penyesuaian ideologi yang dibutuhkannya”.
Dalam analisanya yang mendalam, Kuznet memisahkan enam karakteristik yang terjadi dalam proses pertumbuhan pada hampir semua negara dan dari pendapatnya tersebut di bawah ini terlihat bahwa salah satu faktor yang sangat penting untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yaitu perdagangan (ekspor).
1. Dua variabel ekonomi agregatif : tingginya tingkat pertumbuhan output per kapita dan populasi dan tingginya tingkat kenaikan produktivitas faktor produksi secara keseluruhan atau terutama produktivitas tenaga kerja.
2. Dua transformasi struktural : tingginya tingkat transformasi struktur ekonomi dan tingginya tingkat transformasi sosial dan ideologi.
3. Dua faktor yang mempengaruhi meluasnya pertumbuhan ekonomi internasional : kecenderungan negara-negara maju secara ekonomi untuk menjangkau seluruh dunia untuk mendapatkan pasar (ekspor) dan bahan baku dan pertumbuhan ekonomi ini hanya dinikmati oleh sepertiga populasi dunia.
Hal ini sejalan dengan pendapat Krugman dan Obstfeilt yang menyatakan secara teoritis, bahwa perdagangan internasional terjadi kerena dua alasan utama, yaitu:
a. Adanya keuntungan dalam melakukan perdagangan (gains from trade) bagi negara, dikarenakan adanya perbedaan diantara mereka mengenai faktor-faktor yang dimilikinya
b. Untuk mencapai skala ekonomi (economies of scale) dalam produksi. Maksudnya, jika setiap negara hanya menghasilkan sejumlah barang-barang tertentu mereka dapat menghasilkan barang-barang tersebut dengan skala yang lebih besar dan karenanya lebih efisien dibandingkan jika negara tersebut mencoba untuk memproduksi segala jenis barang. Kenyataannya bahwa pola-pola perdagangan dunia yang mengakibatkan tejadinya pertumbuhan ekonomi, mencerminkan perpaduan dari dua motif tersebut diatas.
Disini nampak aspek dinamis dari suatu perekonomian, yaitu melihat bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu. Selain itu pertumbuhan memiliki sifat self-generating yaitu proses pertumbuhan itu sendiri melahirkan kekuatan atau momentum bagi timbulnya kelanjutan pertumbuhan tersebut dalam periode selanjutnya.
Sedangkan menurut teori, pertumbuhan ekonomi didefinisikan sebagai penjelasan mengenai faktor-faktor apa saja yang menentukan kenaikan output per kapita dalam jangka panjang dan penjelasan mengenai bagaimana faktor-faktor tersebut berinteraksi satu sama lain, sehingga terjadi proses pertumbuhan.
Pertumbuhan ekonomi yang dinyatakan dengan kenaikan output (Produk Domestik Bruto) dan pendapatan riil perkapita memang bukanlah satu-satunya sasaran di negara-negara berkembang, namun kebijakan ekonomi dalam meningkatkan pertumbuhan output perlu dilakukan karena merupakan syarat penting untuk memperbaiki kesejahteraan masyarakat dan untuk mendukung tujuan kebijakan pembangunan lainnya.
Output atau PDB (Widodo, 1990) adalah nilai seluruh barang jadi dan jasa-jasa yang diperoleh dan merupakan nilai seluruh produksi yang dibuat di dalam negeri, tanpa membedakan apakah produk tersebut dibuat dari faktor produksi yang berasal dari dalam negara tersebut atau faktor produksi yang berasal dari negara-negara lain yang digunakan negara tersebut. Perlu dicatat bahwa pertumbuhan ekonomi tidak mencerminkan kemakmuran suatu negara. Oleh karena itu perlu kiranya mengukur tingkat pertumbuhan dengan menggunakan PDB perkapita sehingga tidak hanya mengukur kenaikan PDB, melainkan juga kenaikan jumlah penduduk.
Pada zaman sekarang seringkali pembangunan disamakan dengan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi karena orang percaya, hasil-hasil pembangunan akan dengan sendirinya menetes ke bawah (trickle down) sebagaimana yang terjadi di negara-negara yang sekarang tergolong maju. Jadi, yang perlu diusahakan dalam pembangunan adalah bagaimana caranya untuk mencapai tujuan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut. Bahwa pada tahap awal pembangunan (Todaro, 1998) terdapat tingkat kesenjangan pembagian pendapatan yang menyolok seperti yang ditulis oleh Simon Kuznet dalam penelitian empirisnya mengenai negara-negara maju, yang dikenal dengan kurva U terbalik. Adalah suatu hal yang wajar, keadaan ini juga akan dilalui oleh negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia dalam proses pembangunannya.
Selama ini banyak negara sedang berkembang telah berhasil menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi, tetapi masih banyak permasalahan pembangunan yang belum terpecahkan, seperti : tingkat pengganguran tetap tinggi, pembagian pendapatan tambah tidak merata, masih banyak terdapat kemiskinan absolut, tingkat pendidikan rata-rata masih rendah, pelayanan kesehatan masih kurang, dan sekelompok kecil penduduk yang sangat kaya cenderung semakin kaya sedangkan sebagian besar penduduk tetap saja bergelut dengan kemiskinan, yang terjadi bukan trickle down tapi trickle up. Keadaan ini memprihatinkan, banyak ahli ekonomi pembangunan yang mulai mempertanyakan arti dari pembangunan.
Apakah hanya melihat kepada keberhasilan pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi tanpa memperhatikan keadaan-keadaan lainnya, dapat dikatakan bahwa pembangunan telah berhasil ? Silahkan anda menyimpulkannya.

B. Perhitungan dari awal suatu daerah sampai berkembang
Perhitungan dari awal suatu daerah sampai berkembang di lihat dari Proses pertumbuhan ekonomi yang dapat diketahui dari teori pertumbuhan ekonomi.
a. Teori Austria
Teori Austria ini dikemukakan oleh empat ahli.
1) Werner Sombart
Menurut Werner Sombart pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibagi menjadi tiga tingkatan.
a) Masa perekonomian tertutup
Pada masa ini semua kegiatan mthusia'hanya semati;mata untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.Indiyidu atau masyarakat bertindak sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen,sehingga tidal( terjadi pertukaran barang atau jasa.. Masa perekonomian ini mempunyai ciri-ciri:
(1) kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan sendiri,
(2) setiap individu sebagai produsen sekaligus sebagai konsumen, dan
(3) belum ada pertukaran barang atau jasa: 4
b) Masa kerajinan dan pertukangan
Pada masa ini kebutuhan manusia semakin meningkat, baik secara kuantitatif maupun kualitatif akibat perkembangan peradaban.
Peningkatan kebutuhan tersebut tidak dapat dipenuhi sendiri sehingga diperlukan pembagian kerja yang sesuai dengan keahlian masing-masing. Pembagian kerja ini menimbulkan pertukaran barang atau jasa. Pertukaran barang dan jasa pada masa ini belum didasari oleh tujuan untuk mencari keuntungan, namun semata¬mata untuk Baling memenuhi kebutuhan. Masa kerajinan dan pertukangan memiliki beberapa ciri, yaitu
(1) meningkatnya kebutuhan manusia,
(2) adanya pembagian tugas sesuai dengan keahlian,
(3) timbulnya pertukaran barang dan jasa, dan
(4) pertukaran belum didasari profit motive.
c) Masa kapitalis
Pada masa ini muncul kaum pemilik modal (kapitalis). Dalam menjalankan usahanya kaum kapitalis memerlukan pars pekerja (kaum buruh). Produksi yang dilakukan oleh kaum kapitalis tidak lagi hanya sekadar memenuhi kebutuhannya, tetapi sudah bertujuan mencari laba. Werner Sombart membagi masa kapitalis menjadi empat masa, yaitu :
(1) Tingkat prakapitalisme
Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu :
(a) kehidupan masyarakat masih statis,
(b) bersifat kekeluargaan,
(c) bertumpu pada sektor pertanian,
(d) bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri, dan
(e) hidup secara berkelompok.
(2) Tingkat kapitalisme
Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu
(a) kehidupan masyarakat sudah dinamis,
(b) bersifat individual,
(c) adanya pembagian pekerjaan, dan
(d) terjadi pertukaran untuk mencari keuntungan.
(3) Tingkat kapitalisme raya
Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu
(a) usahanya semata-mata mencari keuntungan,
(b) munculnya kaum kapitalis yang memiliki alat produksi,
(c) produksi dilakukan secara massal dengan alat modern,
(d) perdagangan mengarah ke persaingan monopoli, dan
(e) dalam masyarakat terdapat dua kelompok, yaitu majikan dan buruh.
(4) Tingkat kapitalisme akhir
Masa ini memiliki beberapa ciri, yaitu
(a) munculnya aliran sosialisme,
(b) adanya campur tangan pemerintah dalam ekonomi,
(c) mengutamakan kepentingan bersama, dan
(d) hilangnya para majikan.
2) Friedrich List
Menurut Friedrich List pertumbuhan ekonomi suatu bangsa dapat dibagi menjadi lima tingkatan, yaitu
a) Masa pengembaraan
Masa pengembaraan bercirikan:
(1) kehidupan bergantung pada alam,
(2) berpindah-pindah tempat (nomaden),
(3) belum terjadi pertukaran dengan uang,
(4) berlaku hukum rimba, dan
(5) mata pencaharian utama berburu.
b) Masa beternak
Masa beternak bercirikan:
(1) hidup secara berkelompok,
(2) berpindah-pindah tempat,
(3) hidup secara kekeluargaan, dan
(4) belum terjadi perdagangan atau pertukaran.
c) Masa bertani
Masa bertani memiliki ciri-ciri:
(1) kehidupan mulai menetap,
(2) mata pencarian utama bertani,
(3) alat yang dipergunakan dalam bertani rpasih sederhana, dan
(4) sudah terjadi tukar menukar atau perdagangan.
d) Masa bertani dan kerajinan tangan
Masa bertani dan kerajinan tangan memiliki ciri-ciri:
(1) kehidupan sudah menetap,
(2) mata pencaharian bertani dan kerajinan tangan,
(3) sudah menggunakan alat-alat untuk pertanian,
(4) sudah mengenal budaya, dan
(5) kerajinan tangan dapat membantu peninglcatan penghasilan.
Masa industri dan perniagaan
Masa industri dan perniagaan memiliki ciri-ciri:


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Pengertian pertumbuhan ekonomi (economic growth) menurut G. Bannock, R. E. Baxter dan R. Rees dalam A Dictionary of Economics adalah proses yang tetap dari kenaikan kapasitas produktif suatu perekonomian yang diwujudkan dalam bentuk kenaikan pendapatan nasional. Menurut Simon Kuznets pertumbuhan ekonomi tidak pernah melalui langkah yang melompat-lompat, tetapi merupakan swill proses yang evolusioner dan bersifat spesifik untuk setiap negara.
Seyogyanya kawasan ekonomi khusus ini bisa menjadi lokomotif bagi pertumbuhan daerah. Lokomotif dalam pengertian pertumbuhan ekonomi lewat pertumbuhan investasi, pertumbuhan ekspor, perluasan kesempatan kerja dan sebagainya," kata Menperind..
Menurut Fahmi, RUU KEK merupakan payung hukum bagi kawasan ekonomi khusus atau free trade zone yang dibentuk pemerintah. Sebab, selama ini ketentuan pengelompokan mengenai kawasan khusus masih terpencar-pecar. Contohnya, Sabang, Batam dan lainnya yang masih memiliki peraturan sendiri-sendiri.











Daftar Pustaka
Makmun, ” Desentralisasi dan Hubungan Keuangan Pusat dan Daerah “, Kajian Ekonomi dan Keuangan Tahun IV No.2, Badan Analisa Keuangan dan Moneter, Departemen Keuangan RI, Juni 2000.
Machfud Sidik, DirJen PKPD-DepKeu RI ” Perimbangangan Keuangan Pusat dan Daerah Sebagai Pelaksanaan desentralisasi Fiskal : Antara Teori dan Aplikasinya di Indonesia “, Yogyakarta, disampaikan dalam Seminar : Setahun Implementasi Kebijaksanaan Otonomi Daerah di Indonesia, 2002.
Teguh Dartanto, ” Ketergantungan Pemerintah Daerah Terhadap Inter-Governmental Transfer di Era Otonomi Daerah “, Depok, disampaikan dalam Workshop Regional Finance kerjasama LPEM FEUI dan KANOPI SMFEUI, Februari 2003.
Michael P. Todaro, ” Pembangunan Ekonomi di dunia Ketiga “, edisi ketujuh, Jakarta, Erlangga, 2000.
J. Dumairy, Perekonomian Indonesia,, Penerbit Erlangga, Jakarta
Mohammad Zulfan Tadjoeddin, ” Aspiration to Inequality : Regional Disparity and Centre-Regional Conflicts in Indonesia “,Paper disampaikan pada UNU/WIDER Project Conference on Spatial Inequality in Asia, United Nations University Centre, Tokyo, Maret 2003.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

jangan cuma lihat n baca coment juga dong say